Festival Sastra Melayu Riau 2026 Ditutup, Budaya Melayu Terus Dilestarikan

Festival Sastra Melayu Riau 2026 di Bengkalis resmi ditutup. Pemkab Bengkalis menegaskan komitmen melestarikan sastra dan budaya Melayu.

Festival Sastra Melayu Riau 2026 Ditutup, Budaya Melayu Terus Dilestarikan
Festival Sastra Melayu Riau 2026 Ditutup, Semangat Lestarikan Budaya Terus Digelorakan

BENGKALIS, JAGOK.CO – Pemerintah Kabupaten Bengkalis terus mempertegas komitmennya dalam menjaga, merawat, sekaligus mengembangkan sastra dan budaya Melayu sebagai bagian penting dari jati diri masyarakat. Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus budaya global, pelestarian khazanah Melayu dinilai bukan sekadar upaya mempertahankan warisan masa lalu, melainkan investasi kebudayaan untuk membangun karakter generasi masa depan.

Komitmen tersebut disampaikan Bupati Bengkalis Kasmarni melalui Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bengkalis, H. Hambali, saat menghadiri penutupan Festival Sastra Melayu Riau 2026 di Panggung Balai Suku, Desa Teluk Pambang, Kecamatan Bantan, Sabtu (22/8/2026) malam.

Festival yang mengusung tema “Hikayat Sastra Pesisir” tersebut menjadi salah satu ruang kebudayaan yang mempertemukan sastra, seni, tradisi, masyarakat dan generasi muda dalam satu panggung. Kehadirannya sekaligus memperlihatkan bahwa sastra Melayu masih memiliki ruang yang kuat untuk tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat Riau.

Diselenggarakan oleh Suku Seni Riau, Festival Sastra Melayu Riau 2026 tidak hanya menjadi momentum pertunjukan dan apresiasi karya seni, tetapi juga menjadi ruang untuk menggali kembali kekayaan cerita, nilai, tradisi, bahasa serta kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di wilayah pesisir Melayu.

Festival Sastra Melayu Riau tahun ini merupakan penyelenggaraan keempat sejak pertama kali digelar pada 2023. Konsistensi penyelenggaraan tersebut menjadi penanda penting bahwa ruang apresiasi, ekspresi dan kreativitas bagi seniman, sastrawan, budayawan maupun masyarakat terus tumbuh serta memperoleh tempat di tengah dinamika kehidupan masyarakat.

Bagi Kabupaten Bengkalis, keberlanjutan festival sastra dan budaya semacam ini memiliki arti strategis. Sebab, kebudayaan tidak hanya berbicara mengenai peninggalan masa lampau, tetapi juga menyangkut bagaimana sebuah masyarakat mengenali akar identitasnya, memahami nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu, kemudian meneruskannya dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan zaman.

Dalam sambutannya, H. Hambali atas nama Pemerintah Kabupaten Bengkalis menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada panitia penyelenggara, para seniman, sastrawan, budayawan, peserta serta seluruh masyarakat yang telah berkontribusi dan mendukung terselenggaranya Festival Sastra Melayu Riau 2026.

Menurut Hambali, sastra memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat. Sastra tidak semata-mata merupakan rangkaian kata, cerita atau karya seni yang dibaca dan dipentaskan, tetapi juga menjadi medium untuk merekam perjalanan sejarah, menyampaikan pandangan hidup, menanamkan nilai-nilai moral serta membentuk karakter generasi penerus.

Karena itu, keberadaan festival sastra di tengah masyarakat harus dipandang sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kebudayaan yang sehat. Ruang seperti ini memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal sastra bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai sesuatu yang hidup, dapat dikembangkan, dan mampu menjadi sumber inspirasi dalam menghadapi masa depan.

“Budaya Melayu jangan sampai hanya menjadi kenangan masa lalu. Kita harus terus menjaga, mengembangkan dan mewariskannya kepada generasi muda, sehingga tetap hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa pelestarian budaya Melayu membutuhkan kesinambungan. Kebudayaan akan tetap hidup apabila terus dipelajari, digunakan, ditampilkan, dikembangkan dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Hambali menegaskan, Pemerintah Kabupaten Bengkalis berkomitmen memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan yang mampu menghidupkan, mengembangkan dan memperkuat tradisi, sastra serta seni budaya Melayu.

Dukungan terhadap kegiatan kebudayaan, menurutnya, merupakan bagian dari pembangunan daerah yang memiliki dimensi lebih luas. Pembangunan tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi maupun peningkatan infrastruktur, tetapi juga harus memperhatikan pembangunan manusia yang memiliki karakter, identitas dan akar kebudayaan yang kuat.

Upaya tersebut, lanjutnya, sejalan dengan arah pembangunan daerah yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga memberikan perhatian terhadap penguatan karakter, nilai-nilai budaya dan identitas masyarakat.

Dalam konteks itulah, sastra Melayu memiliki posisi yang sangat penting. Melalui karya sastra, nilai tentang kehidupan, hubungan antarmanusia, penghormatan kepada orang tua, kebersamaan, gotong royong, lingkungan, adat istiadat serta kearifan masyarakat pesisir dapat terus direkam dan diwariskan dalam bentuk yang dekat dengan generasi muda.

Terlebih bagi Bengkalis dan kawasan pesisir Riau, sastra memiliki hubungan erat dengan perjalanan masyarakatnya. Tradisi lisan, hikayat, pantun, gurindam, cerita rakyat dan berbagai ekspresi kebudayaan lainnya merupakan bagian dari kekayaan intelektual masyarakat Melayu yang perlu terus dirawat agar tidak terputus oleh perubahan zaman.

Karena itu, Hambali berharap Festival Sastra Melayu Riau dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan kegiatan yang semakin luas. Festival tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi bagi seniman, sastrawan dan budayawan, tetapi juga berkembang menjadi sarana edukasi, ruang dialog kebudayaan serta wadah untuk menumbuhkan kreativitas generasi muda.

“Melalui kegiatan seperti ini, kita berharap lahir generasi yang tidak hanya maju secara intelektual, tetapi juga memahami akar budaya dan memiliki kebanggaan terhadap identitas Melayu,” harapnya.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi yang membuat generasi muda berhadapan dengan berbagai macam budaya dari berbagai belahan dunia. Kemajuan teknologi harus dipandang sebagai peluang untuk memperkenalkan kebudayaan Melayu kepada masyarakat yang lebih luas, bukan sebagai ancaman yang membuat generasi muda menjauh dari akar budayanya.

Dengan demikian, pelestarian sastra Melayu tidak harus berhenti pada panggung pertunjukan atau kegiatan seremonial. Sastra dan budaya Melayu juga dapat diperkenalkan melalui pendidikan, ruang digital, media massa, komunitas kreatif, karya audiovisual serta berbagai platform yang menjadi ruang interaksi generasi muda.

Festival Sastra Melayu Riau 2026 dengan tema “Hikayat Sastra Pesisir” pada akhirnya menjadi pengingat bahwa setiap daerah memiliki cerita yang tidak ternilai. Cerita tersebut bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang identitas, perjalanan masyarakat dan cara sebuah generasi memahami dunia yang diwariskan kepadanya.

Lebih lanjut, Hambali mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menumbuhkan semangat menjaga dan mengembangkan sastra serta budaya Melayu. Menurutnya, tanggung jawab pelestarian kebudayaan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah, seniman, sastrawan atau budayawan.

Masyarakat, keluarga, lembaga pendidikan, komunitas pemuda, tokoh adat hingga generasi muda memiliki peran yang sama penting dalam memastikan kebudayaan Melayu tetap hidup. Ketika nilai-nilai budaya hadir dalam kehidupan sehari-hari, maka pelestarian tidak lagi sekadar menjadi slogan, melainkan menjadi praktik sosial yang diwariskan secara alami.

Dengan demikian, warisan budaya yang menjadi bagian dari jati diri daerah tidak hanya terpelihara, tetapi juga mampu berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasinya.

“Pemerintah Kabupaten Bengkalis akan terus memberikan dukungan terhadap berbagai upaya yang bertujuan menjaga eksistensi budaya Melayu, sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat,” tutupnya.

Penutupan Festival Sastra Melayu Riau 2026 turut dihadiri Plt. Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen Hidayat Widianto, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Umi Kulsum, Pj. Kepala Desa Teluk Pambang Sariyono beserta jajaran, Ketua BPD Teluk Pambang Rupiah beserta anggota, Ketua LAM Desa Teluk Pambang Iskandar, Ketua LPHD Indra Sukmana, para kepala dusun, ketua RW/RT, Karang Taruna serta masyarakat Desa Teluk Pambang.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian sastra dan budaya Melayu merupakan agenda kebudayaan yang membutuhkan kolaborasi. Pemerintah memiliki peran dalam memberikan kebijakan dan dukungan, sementara seniman, sastrawan dan budayawan menjadi penggerak kreativitas. Di sisi lain, masyarakat menjadi pemilik sekaligus penjaga utama tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari Panggung Balai Suku Desa Teluk Pambang, pesan kebudayaan itu kembali digaungkan: bahwa kemajuan tidak harus membuat sebuah masyarakat kehilangan akar. Justru dengan mengenali sejarah, merawat bahasa, menghidupkan sastra dan menjaga tradisi, sebuah generasi dapat melangkah lebih jauh dengan identitas yang tetap kokoh.

Festival Sastra Melayu Riau 2026 pun boleh saja berakhir secara seremoni, tetapi semangat yang dibawanya diharapkan tidak ikut padam. Sebab, selama sastra terus ditulis, hikayat terus diceritakan, tradisi terus dipelajari dan generasi muda masih memiliki kebanggaan terhadap budaya Melayu, maka denyut kebudayaan itu akan tetap hidup.

Pada akhirnya, melestarikan sastra Melayu bukan sekadar menjaga apa yang pernah ada. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa nilai, ingatan, hikayat dan kebijaksanaan masyarakat Melayu tetap memiliki tempat dalam masa depan.

Dan dari pesisir Bengkalis, semangat itu kembali digelorakan: budaya boleh bergerak mengikuti zaman, tetapi jati diri tidak boleh kehilangan akar.