Bupati Kuansing Canangkan Pembangunan Balai Adat di Pucuk Rantau
Bupati Kuantan Singingi H. Suhardiman Amby resmi mencanangkan pembangunan Balai Adat di Pucuk Rantau sebagai simbol pemerataan pembangunan dan penguatan marwah adat Kuansing. Proyek ini diharapkan menjadi wadah musyawarah adat sekaligus pusat sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan Kuansing yang bermarwah, beradat, dan berkemajuan
TELUK KUANTAN, PUCUK RANTAU – LINTASTIMURMEDIA.COM — Semangat pemerataan pembangunan di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) terus digelorakan oleh Bupati H. Suhardiman Amby. Dalam kunjungan kerjanya ke Lapangan Sepak Bola Desa Pangkalan, Kecamatan Pucuk Rantau, Senin malam (13/10/2025), Bupati secara resmi mengumumkan rencana pembangunan Balai Adat Pucuk Rantau—sebuah ikon baru yang akan menjadi simbol kebersamaan, pusat musyawarah, sekaligus wadah memperkuat peran adat dalam pembangunan daerah.
Acara tersebut berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Turut hadir Ketua DPRD Kuansing H. Juprizal, Sekretaris Daerah Zulkarnain, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Staf Ahli Kemasyarakatan dan SDM, Kepala OPD, serta Direktur RSUD Teluk Kuantan. Tak ketinggalan, hadir pula Plt. Camat Pucuk Rantau Yulinar, Plt. Camat Kuantan Mudik Januarisman, beserta para pejabat eselon III, IV, dan pejabat fungsional dari wilayah Pucuk Rantau, Gunung Toar, Hulu Kuantan, hingga Kuantan Mudik.
Balai Adat, Simbol Pemerataan dan Kebangkitan Marwah Kuansing
Dalam sambutannya, Bupati Suhardiman Amby menegaskan bahwa pembangunan Balai Adat Pucuk Rantau bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi juga langkah strategis untuk menghadirkan keadilan pembangunan dan mengangkat kembali marwah adat yang menjadi jati diri masyarakat Kuantan Singingi.
“Kita berencana membangun Balai Adat di Pucuk Rantau, yang nantinya menjadi tempat berkumpulnya para pemangku adat, ninik mamak, dan cucu kemenakan untuk bermusyawarah membahas kemajuan daerah. Balai ini akan menjadi simbol kebersamaan antara pemerintah dan adat dalam mengatur langkah pembangunan Kuansing ke depan,”
ujar Bupati Suhardiman di hadapan ratusan warga yang hadir antusias.
26 Tahun Kuansing Berdiri, Kini Giliran Pucuk Rantau Mendapat Perhatian
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyinggung kondisi Kecamatan Pucuk Rantau yang dikenal sebagai “Mutiara di Ujung Negeri.” Meski memiliki potensi besar, wilayah ini selama 26 tahun berdirinya Kabupaten Kuansing belum memiliki fasilitas Balai Adat sebagaimana kecamatan lainnya. Karena itu, rencana pembangunan ini dinilai menjadi tonggak pemerataan pembangunan Kuansing dari hulu hingga hilir.
“Selama 26 tahun Kuansing berdiri, Pucuk Rantau belum memiliki fasilitas seperti Balai Adat. Sudah saatnya daerah ini mendapatkan perhatian yang sama seperti kecamatan lainnya. Kita ingin pembangunan ini adil, merata, dan dirasakan seluruh lapisan masyarakat,”
tegas Suhardiman penuh komitmen.
Adat sebagai Mitra Strategis Pemerintah Daerah
Bupati menambahkan, keberadaan Balai Adat Pucuk Rantau nantinya tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan adat, tetapi juga akan difungsikan sebagai sarana pertemuan resmi antara pemerintah dan masyarakat, khususnya dalam membahas arah pembangunan berbasis nilai-nilai kearifan lokal Kuansing.
“Pemerintah daerah ingin menempatkan adat sebagai mitra strategis pembangunan. Dengan adanya Balai Adat di Pucuk Rantau, setiap keputusan pembangunan bisa didudukkan bersama, dibahas secara musyawarah, dan membawa manfaat bagi masyarakat luas,”
papar Suhardiman.
Masyarakat Sambut Antusias, Harapan Baru Tumbuh di Ujung Negeri
Suasana malam itu berlangsung penuh keakraban. Masyarakat tampak antusias mendengarkan paparan Bupati, sementara para ninik mamak dan tokoh adat memberikan apresiasi tinggi atas langkah pemerintah yang menempatkan adat sebagai fondasi pembangunan daerah.
Menutup sambutannya, Bupati Suhardiman Amby menyampaikan pesan yang menggugah hati:
“Balai Adat bukan hanya bangunan, tapi wadah hati dan pikiran bersama. Di sinilah nanti kita akan duduk satu hamparan, menyatukan ide, menyusun langkah, dan memastikan bahwa Kuantan Singingi tumbuh dengan adat, berkemajuan dengan marwah, serta berjaya dengan kebersamaan.”
Dengan dicanangkannya pembangunan Balai Adat Pucuk Rantau, masyarakat menyambut optimisme baru. Sebuah harapan tumbuh di wilayah paling ujung Kuansing bahwa pembangunan dan pelestarian adat dapat berjalan seiring—mewujudkan Kuantan Singingi yang maju, bermarwah, dan bermartabat.





















