Karhutla Riau Masih Membara, BPBD Gencar Lakukan Pemadaman Darat dan Udara

Operasi gabungan BPBD Riau bersama TNI, Polri, dan Manggala Agni terus memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di tujuh daerah. Helikopter water bombing dikerahkan di kawasan sulit air seperti Taman Nasional Tesso Nilo. Api sebagian besar terjadi di tanah mineral, situasi masih terkendali namun tim tetap siaga penuh mengantisipasi potensi meluasnya kebakaran di musim kemarau.

Karhutla Riau Masih Membara, BPBD Gencar Lakukan Pemadaman Darat dan Udara
Operasi Gabungan Darat-Udara: Pemadaman Karhutla Riau di Tujuh Daerah Terus Digenjot, Tim BPBD dan Helikopter Water Bombing Siaga Penuh

PEKANBARU – LINTASTIMURMEDIA.COM – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau terus dilakukan secara intensif melalui operasi gabungan darat dan udara. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau bersama unsur TNI, Polri, Manggala Agni, serta masyarakat peduli api (MPA) masih berjibaku di lapangan untuk menekan sebaran api yang meluas di tujuh kabupaten/kota.

Kepala BPBD Damkar Riau M. Edy Afrizal menjelaskan, hingga Minggu siang (2/11), Karhutla masih dilaporkan terjadi di Kabupaten Kampar, Pelalawan, Rokan Hulu (Rohul), Siak, Indragiri Hulu (Inhu), Rokan Hilir (Rohil), dan Kota Pekanbaru. Beberapa titik di antaranya merupakan lokasi baru, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap pendinginan pascakebakaran.

“Saat ini, tim di lapangan masih berupaya memadamkan api di tujuh daerah. Ada titik baru yang muncul, dan ada pula yang masih proses pendinginan agar bara tidak kembali menyala,” ujar Edy Afrizal.

Salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius adalah kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten Indragiri Hulu. Lokasi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena minimnya sumber air di sekitar area kebakaran, sehingga proses pemadaman harus dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter water bombing.

“Di kawasan TNTN, sulit menemukan sumber air terdekat. Karena itu, tim udara dikerahkan untuk melakukan pemadaman dari udara. Water bombing menjadi langkah efektif saat akses darat terbatas,” ungkapnya.

Edy menambahkan, berdasarkan hasil pemantauan, kebakaran yang terjadi saat ini sebagian besar tidak berada di lahan gambut, melainkan di tanah mineral, sehingga proses pemadaman relatif lebih cepat dan tidak menimbulkan kabut asap tebal seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa seluruh tim tetap siaga penuh mengantisipasi potensi meluasnya api akibat hembusan angin kencang.

“Kondisi di lapangan masih terkendali. Namun kami tidak boleh lengah. Walau api lebih mudah dipadamkan karena berada di tanah mineral, potensi menjalar ke wilayah lain tetap ada,” tegasnya.

BPBD Damkar Riau juga terus berkoordinasi dengan Posko Pengendalian Karhutla Provinsi Riau, memantau titik panas (hotspot) melalui citra satelit BMKG, serta menyiapkan peralatan pemadaman darat dan logistik tambahan untuk petugas yang berjaga di lapangan.

Operasi gabungan ini menjadi langkah nyata Pemerintah Provinsi Riau dalam mengantisipasi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir November. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena selain berpotensi memperburuk situasi Karhutla, juga dapat dikenakan sanksi hukum sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan. Satu puntung api saja bisa memicu kebakaran besar di musim kemarau seperti sekarang,” tutup Edy.

Dengan kerja sama lintas sektor, sinergi antara petugas darat dan helikopter udara diharapkan dapat mempercepat proses pemadaman dan meminimalisir dampak Karhutla terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat Riau.