Pacu Jalur Kuantan Singingi, Warisan Budaya Riau Menuju UNESCO

Pacu Jalur di Kuantan Singingi, ikon budaya Riau yang lahir dari tradisi rakyat, kini jadi festival pariwisata nasional dan tengah diusulkan ke UNESCO.

Pacu Jalur Kuantan Singingi, Warisan Budaya Riau Menuju UNESCO
Prof. Suwardi MS saat menunjukkan buku karyanya tentang sejarah Pacu Jalur, yang menjadi rujukan penting pengakuan tradisi budaya Riau.

LINTASTIMURMEDIA.COM - PEKANBARUPacu Jalur Kuantan Singingi bukan sekadar lomba mendayung perahu panjang, melainkan ikon budaya Riau yang sarat makna sejarah, identitas, dan kebersamaan masyarakat. Festival akbar yang setiap tahun menyedot ribuan penonton di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, itu kini menjadi salah satu magnet utama pariwisata Riau, bahkan mulai dilirik dunia internasional.

Menurut sejarawan Riau, Profesor Suwardi MS, tradisi pacu jalur berawal dari permainan rakyat di tepian Sungai Kuantan. Saat itu, jalur—perahu kayu panjang dengan ukiran khas—digunakan antar-desa untuk hiburan sekaligus mengadu keterampilan mendayung. “Awalnya pacu jalur hanyalah perlombaan antardesa, tapi kemudian dimanfaatkan Belanda untuk peringatan Ratu Wilhelmina. Dari sanalah tradisi ini berkembang menjadi even besar yang melibatkan 19 koto di Kuantan,” ujar Prof Suwardi dalam wawancara di Pekanbaru.

Dari Kolonial Belanda hingga Era Kemerdekaan

Catatan sejarah menyebutkan, kolonial Belanda menjadikan pacu jalur sebagai bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina. Jalur-jalur panjang itu didayung melintasi Sungai Kuantan, mulai dari Lubuk Ambacang hingga Cerenti. Tradisi ini kemudian mengalami transformasi besar pasca-kemerdekaan, ketika masyarakat Riau mengalihfungsikannya sebagai agenda tahunan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Setelah Indonesia merdeka, pacu jalur bukan lagi untuk Belanda, melainkan untuk rakyat sendiri. Inilah yang membuatnya melekat sebagai simbol perjuangan dan identitas budaya Riau,” jelas Prof Suwardi.

Momentum Kebangkitan dan Pengakuan Pemerintah

Pada dekade 1980-an, pacu jalur masih dibuka secara sederhana oleh bupati setempat. Namun Prof Suwardi kemudian menulis buku khusus tentang tradisi ini, yang mendorong Gubernur Riau saat itu, Imam Munandar, meresmikannya sebagai event tingkat provinsi. Bahkan Kementerian Kebudayaan meminta Prof Suwardi menyusun buku resmi tentang pacu jalur beserta tata upacaranya.

“Dari situlah pacu jalur naik kelas, dari permainan rakyat menjadi event pariwisata budaya nasional. Kini festival ini bukan hanya hiburan, tapi juga sarana memperkuat identitas dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Pacu Jalur, Warisan Budaya Riau Menuju UNESCO

Ribuan wisatawan lokal dan mancanegara datang setiap tahun ke Kuantan Singingi untuk menyaksikan jalur-jalur bertarung di Tepian Narosa. Bagi masyarakat Kuantan, pacu jalur lebih dari sekadar lomba; ia adalah simbol gotong royong, solidaritas, dan kekompakan. Setiap perahu dipersiapkan bersama—mulai dari pembuatan, latihan mendayung, hingga doa adat—sehingga nilai kebersamaan lebih menonjol daripada sekadar kompetisi.

Prof Suwardi menyebutkan, sudah ada upaya agar pacu jalur masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Ia bahkan pernah diminta menjadi narasumber dalam proses tersebut. “Sejak dulu ada usaha untuk mendaftarkan pacu jalur ke UNESCO, namun hingga kini masih menunggu kepastian. Meski begitu, minat wisatawan asing terus meningkat, apalagi setelah banyak penampilan budaya seperti tarian pacu jalur viral di media sosial,” ungkapnya.

Daya Tarik Wisata dan Dampak Ekonomi

Kehadiran pacu jalur kini menjadi kebanggaan masyarakat Riau dan daya tarik utama pariwisata. Festival ini membawa dampak ekonomi signifikan, mulai dari sektor kuliner, penginapan, hingga industri kreatif berbasis budaya lokal. Bahkan viralnya motif ukiran jalur seperti naga sakti dan burung garuda menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Tak hanya itu, pacu jalur juga menjadi medium diplomasi budaya. Turis asing yang datang ke Teluk Kuantan kerap menyebut pacu jalur sebagai pengalaman unik yang berbeda dari festival serupa di negara lain.

Bukti Ketahanan Budaya Riau

Bagi Prof Suwardi, perjalanan panjang pacu jalur adalah bukti ketahanan budaya masyarakat Kuantan Singingi. Tradisi ini mampu beradaptasi dari masa kolonial, melewati era kemerdekaan, hingga kini bertransformasi sebagai event pariwisata nasional yang mendunia.

“Pacu jalur adalah warisan nenek moyang yang harus kita jaga. Saya berharap tahun ini festival pacu jalur mendapat pengakuan lebih luas, baik dari dalam negeri maupun internasional,” pungkasnya.