Dedi Mulyadi Serukan Kerja Nyata Bangun Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyerukan kerja nyata hadapi pengangguran, kemiskinan, dan maraknya pinjol di tengah ketertinggalan provinsi terbesar ini.
LINTASTIMURMEDIA.COM – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa saat ini adalah momen penting untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan. Ia menyebutkan, kepercayaan publik bukanlah hal yang instan, melainkan hasil dari kerja keras yang konsisten dan nyata.
"Orang percaya itu bukan perkara mudah. Maka hari ini kita harus bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh," ujarnya dalam pertemuan bersama para pimpinan daerah se-Jawa Barat.
Menurut Dedi, menjadi bagian dari pemerintah daerah bukanlah soal kenyamanan, melainkan soal pengabdian dan tanggung jawab besar untuk membenahi ketertinggalan.
"Menjabat bersama saya bukan untuk tidur nyenyak, makan enak, atau sekadar jalan-jalan. Ini soal kesungguhan bekerja. Kalau Anda ingin leha-leha, jangan ikut dalam rombongan kerja saya," tegasnya penuh semangat.
Jawa Barat Masih Hadapi Tantangan Serius: Pengangguran, Kemiskinan, dan Ketergantungan pada Pinjol
Dedi mengungkapkan bahwa Provinsi Jawa Barat hingga kini masih menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang belum tuntas. Salah satunya adalah tingkat pengangguran dan angka kemiskinan yang masih relatif tinggi.
"Lama sekolah di Jawa Barat masih di bawah rata-rata nasional. Pengangguran kita masih tinggi, angka kemiskinan juga belum tertangani sepenuhnya," bebernya.
Tak hanya itu, Gubernur juga menyoroti tingginya ketergantungan masyarakat terhadap pinjaman online (pinjol) dan praktik rentenir seperti Bank Emok yang menjamur di kalangan warga.
"Pelanggan pinjol dan Bank Emok di Jawa Barat masih sangat tinggi. Banyak hal negatif yang justru menempatkan Jawa Barat di posisi pertama secara nasional," lanjutnya.
Dedi menilai hal ini terjadi karena Jawa Barat memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, dan satu persen saja dari total penduduk bisa memberi dampak besar terhadap statistik nasional.
"Inilah tantangannya. Jumlah penduduk besar berarti tanggung jawab kita juga besar. Satu persen saja bisa membuat kita jadi sorotan nasional," jelasnya.
Dedi Mulyadi Tegaskan Peran Gubernur Bukan Sekadar Menara Gading
Dalam pernyataannya, Dedi juga menolak model pemerintahan yang hanya berperan seperti "Menara Gading" yang hanya membagi anggaran tanpa turun langsung ke lapangan.
"Hari ini, provinsi tidak bisa hanya jadi distributor dana. Kita harus jadi stimulator, regulator, sekaligus motivator pembangunan," tegasnya.
Menurut Dedi, paradigma kepemimpinan telah berubah. Publik kini menuntut kepemimpinan yang responsif dan solutif.
"Sekarang branding-nya sudah Jawa Barat. Komplain apapun, dari jalan desa rusak sampai anak tidak mau sekolah, semuanya ditujukan ke gubernur," kata Dedi sambil menyindir gaya komunikasi publik yang cenderung menyalahkan pemimpin di level teratas.
Ia menyebutkan, segala persoalan yang bahkan bersifat domestik dan personal kini ditimpakan ke gubernur.
"Anak tidak makan, tidak tidur, tidak mau sekolah — semuanya komplain ke gubernur. Ini fenomena yang menurut saya ikonik, tapi juga menunjukkan ekspektasi publik yang sangat tinggi," ujarnya.
Bangun Kepercayaan Lewat Aksi Nyata dan Kepemimpinan Tulus
Di akhir pernyataannya, Dedi Mulyadi menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik. Ia memperingatkan bahwa jika pemerintah tidak sungguh-sungguh bekerja, maka kepercayaan masyarakat akan mengalami degradasi yang berbahaya.
"Kalau kita tidak serius bekerja hari ini, maka degradasi kepercayaan itu akan benar-benar terjadi. Orang tidak akan percaya lagi pada institusi pemerintahan," tandasnya.
Pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ini menjadi cermin ketegasan dan panggilan untuk semua pemangku kepentingan agar bergerak serempak dalam menjawab tantangan besar Jawa Barat. Dengan kerja keras, kolaborasi, dan integritas, ia percaya Jawa Barat bisa bangkit dan menjadi provinsi yang unggul secara nasional.





















