Indonesia Kirim 17,8 Ton Bantuan Kemanusiaan ke Gaza di Hari Kemerdekaan RI ke-80

Indonesia mengirimkan 17,8 ton bantuan kemanusiaan ke Gaza bertepatan dengan HUT RI ke-80. Bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan selimut itu dikirim lewat udara di tengah krisis kelaparan yang melanda warga Palestina akibat blokade Israel.

Indonesia Kirim 17,8 Ton Bantuan Kemanusiaan ke Gaza di Hari Kemerdekaan RI ke-80
“Pesawat angkut TNI AU melakukan airdrop bantuan kemanusiaan Indonesia seberat 17,8 ton untuk warga Gaza, bertepatan dengan peringatan HUT RI ke-80.”

JAGOK.CO – GAZA – Indonesia kembali menunjukkan komitmen kuat terhadap perjuangan kemanusiaan rakyat Palestina dengan mengirimkan hampir 18 ton bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui jalur udara, setelah memperoleh izin khusus dari otoritas Israel. Bantuan ini menjadi simbol nyata solidaritas Indonesia di tengah semakin memburuknya kondisi kemanusiaan akibat blokade dan serangan militer Israel yang menyebabkan ribuan warga Gaza meninggal dunia akibat kelaparan dan kurang gizi.

Pengiriman bantuan ini bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Minggu (17/8/2025), menjadikannya sebuah momentum bersejarah sekaligus hadiah istimewa bagi bangsa Indonesia. Total bantuan yang dikirimkan sebanyak 17,8 ton, angka yang secara simbolis merujuk pada tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, menegaskan bahwa keberhasilan misi ini bukan hanya diplomasi, tetapi juga bukti nyata kepedulian Indonesia terhadap penderitaan warga Palestina. Sementara itu, Kolonel Pnb Puguh Julianto selaku Komandan Misi mengatakan, “Momentum Hari Kemerdekaan tidak hanya kita rayakan dengan upacara, tetapi juga dengan aksi nyata kemanusiaan. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di Gaza.”

Bantuan yang dikemas dalam bentuk selimut, paket makanan pokok, makanan siap saji, serta obat-obatan esensial, disalurkan melalui metode airdrops, sebuah teknik penerjunan udara agar bantuan bisa menjangkau wilayah-wilayah Gaza yang terisolasi dan tidak dapat diakses jalur darat.

Tidak berhenti di situ, pada Selasa (19/8/2025), Indonesia kembali mengirimkan bantuan kedua sebagai bagian dari target pemerintah mengirim total 800 ton bantuan kemanusiaan ke Palestina. Sebelumnya, Indonesia juga berkolaborasi dengan lembaga amal Mesir untuk menyalurkan bantuan melalui Rafah, meski prosesnya penuh tantangan.

Mokhamad Mahdum dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mengungkapkan betapa sulitnya misi kemanusiaan ini. “Keamanan di sekitar perbatasan yang dikontrol militer Israel sangat ketat. Dari lima truk yang membawa bantuan, hanya tiga yang berhasil masuk, sementara dua lainnya masih menunggu izin,” jelasnya.

Menurut data Program Pangan Dunia (WFP), setidaknya 500 ribu warga Gaza berada di ambang kelaparan, sementara jutaan lainnya mengalami kondisi darurat gizi akibat blokade panjang dan serangan militer Israel. Meski tekanan internasional semakin kuat agar Israel membuka akses bantuan, Tel Aviv tetap membantah tuduhan bahwa mereka secara sistematis membuat warga Gaza kelaparan.

Beberapa negara lain seperti Yordania, Uni Emirat Arab, Mesir, Jerman, Spanyol, Italia, hingga Belgia juga pernah mengirimkan bantuan melalui jalur udara. Namun, efektivitas metode ini diperdebatkan.

Amra Lee, peneliti di Australian National University (ANU) sekaligus mantan penasihat PBB untuk bantuan kemanusiaan, menilai airdrop lebih bersifat simbolis ketimbang solutif. “Bantuan udara memang terlihat heroik dan visual, tetapi sebenarnya tidak efisien, tidak aman, dan tidak menjamin sampai ke pihak yang paling membutuhkan,” katanya. Ia menegaskan bahwa solusi nyata adalah memastikan bantuan dalam skala besar bisa masuk Gaza melalui jalur darat, dengan perlindungan khusus untuk anak-anak dan perempuan yang kini mengalami gizi buruk akut.

Di sisi lain, Dr. Muhammad Zulfikar Rakhmat dari Centre of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai bahwa Indonesia sudah melakukan banyak hal, tetapi seharusnya bisa lebih tegas. “Indonesia seharusnya mendorong sanksi yang lebih keras terhadap Israel, sekaligus mengadvokasi perdamaian yang adil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Kontroversi sempat muncul ketika pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto berencana memanfaatkan Pulau Galang, Kepulauan Riau, sebagai lokasi perawatan bagi 2.000 korban luka Palestina. Sebagian pihak menilai rencana itu berisiko menghambat hak warga Palestina untuk kembali ke tanah kelahirannya.

Meskipun menghadapi banyak tantangan geopolitik dan diplomasi, Indonesia terus menegaskan posisinya sebagai negara yang konsisten membela Palestina di forum internasional. Misi kemanusiaan ini menjadi pengingat bahwa solidaritas bangsa tidak hanya diukur dari kata-kata, tetapi juga dari aksi nyata, terutama di momen sakral peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80.