OPINI: Zahran Mamdani dan Politik Gaza di New York

Kemenangan Zahran Mamdani dalam pilkada New York menandai bangkitnya politik progresif Amerika yang menggabungkan isu Gaza, krisis biaya hidup, dan solidaritas lintas komunitas. Kampanye akar rumputnya membentuk arah baru Partai Demokrat.

OPINI: Zahran Mamdani dan Politik Gaza di New York
Zahran Mamdani dikenal karena dukungannya yang kuat terhadap perjuangan Palestina (Sumber: Aljazeera.net)

LINTASTIMURMEDIA.COM - NEW YORK - Kemenangan mengejutkan Zahran Mamdani dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk jabatan Wali Kota New York menandai pergeseran signifikan dalam lanskap politik Amerika Serikat. Ia tidak sekadar menang, tetapi mendobrak sekat-sekat lama antara gerakan solidaritas internasional dan realitas lokal. Narasi baru yang diusungnya menjadi cerminan dari redefinisi politik, pergeseran generasi, dan lahirnya sebuah tren yang kini banyak disebut sebagai “Politik Gaza.”

Fenomena ini menyoroti titik temu yang kuat antara dukungan terhadap Palestina dan isu-isu lokal warga New York, seperti biaya hidup, perumahan terjangkau, dan transportasi publik gratis. Di tengah krisis global dan tekanan ekonomi domestik, Mamdani muncul sebagai simbol politik baru yang menolak dikotak-kotakkan oleh paradigma lama.

Selama ini saya telah menulis secara intensif di Al Jazeera tentang solidaritas global terhadap Palestina pasca serangan “Thaufan al-Aqsha,” serta bagaimana Generasi Z memainkan peran penting dalam mengubah peta opini publik dunia. Tapi baru kali ini, energi protes itu tampak benar-benar menembus politik institusional Amerika, yang selama ini dikenal sebagai benteng status quo dan elitisme kekuasaan.

Jika Mamdani memenangkan pilkada pada September mendatang, ia akan menjadi contoh konkret tentang bagaimana aktivisme bisa menjelma menjadi kebijakan. Ia adalah seorang imigran Muslim, berusia 33 tahun, berpaham sosialisme demokratis, dan berhasil mengonsolidasikan dukungan dari pemilih muda, progresif, serta beragam etnis. Ia membuktikan bahwa kampanye berbasis gerakan akar rumput, dipadukan dengan komunikasi digital yang efektif, mampu meruntuhkan dominasi elit politik.

Di tengah lonjakan biaya hidup di New York—salah satu kota termahal di dunia—Mamdani menjadikan isu ekonomi sebagai jangkar utama kampanyenya. Ia mendorong program seperti pembekuan sewa untuk jutaan penyewa, transportasi publik gratis, dan layanan penitipan anak universal. Seluruh program tersebut dibiayai dari pajak progresif terhadap korporasi besar dan orang kaya.

Strategi ini menggema luas. Dari pemilih kulit putih di Manhattan hingga komunitas Latin dan Asia di Brooklyn, politik keterjangkauan hidup menjadi pengikat lintas kelas sosial. Mamdani menampilkan diri bukan hanya sebagai “kandidat muda,” tetapi sebagai figur dengan visi ekonomi progresif yang konkrit dan membumi.

Tidak hanya itu, keberaniannya dalam menyuarakan kritik terhadap Israel dan dukungan terhadap Palestina menjadikannya tokoh langka di Partai Demokrat. Ia menyebut serangan Israel di Gaza sebagai bentuk “genosida”, mendukung gerakan BDS (Boikot, Divestasi, Sanksi), dan menolak kemunafikan kebijakan luar negeri AS. Meski demikian, ia tetap mengecam kekerasan Hamas dan menyerukan perlunya penegakan hukum internasional yang adil.

Kemenangan Mamdani bukan hanya keberhasilan seorang kandidat, tetapi juga simbol kebangkitan politik progresif Amerika yang membawa identitas Muslim, latar belakang imigran, dan isu Palestina ke dalam jantung demokrasi AS.

Politik Biaya Hidup yang Menyatukan

Sebagai politisi muda sosialis demokrat, Mamdani mendorong visi redistribusi kekayaan yang berani. Ia mengusulkan toko bahan makanan milik kota dan investasi sebesar $70 miliar untuk perumahan subsidi. Dalam lanskap politik AS yang lama didominasi neoliberalisme, ini adalah pergeseran radikal—tetapi efektif.

Menurut Washington Post, Mamdani berhasil mempertahankan koalisi progresif yang pernah mendukung Maya Wiley dan Kathryn Garcia pada pilkada 2021, serta memperluasnya ke kelompok-kelompok non-kulit putih, termasuk komunitas Asia-Amerika dan Latin. Ia bahkan memenangkan kawasan Brooklyn Selatan—wilayah yang sebelumnya tidak ramah terhadap politik kiri.

Banyak pemilih muda Muslim yang selama ini apatis justru terdorong turun ke TPS karena kampanye Mamdani. Bagi mereka, ini bukan sekadar soal Gaza, tapi tentang harga sewa rumah, biaya pengasuhan anak, dan masa depan ekonomi keluarga mereka.

Antitesis Politik Elitis

Di sisi lain, Andrew Cuomo, mantan gubernur yang mencoba bangkit dari skandal, tampil dengan kampanye yang kaku dan konvensional. Meski menguasai dana kampanye hingga puluhan juta dolar dari para miliarder, ia kalah oleh Mamdani yang mengandalkan donasi kecil dari 21.000 kontributor, 75% di antaranya menyumbang kurang dari $100.

Kemenangan ini menunjukkan bahwa kualitas kandidat lebih penting daripada nama besar atau kekuatan uang. Publik tidak lagi rela “memaksa diri” memilih tokoh yang membawa masa lalu kelam.

Kampanye Mamdani menyasar hati warga. Ia menggerakkan 1,5 juta kunjungan dari pintu ke pintu, menciptakan konten media sosial yang viral, dan merancang visual kampanye seperti taksi kuning New York—simbol kuat kedekatannya dengan kota. Ia berbicara dalam banyak bahasa, dari Spanyol hingga Hindi, menjangkau warga dari berbagai latar belakang.

Politik Gaza sebagai Arah Baru Partai Demokrat

Dalam hal kebijakan luar negeri, Mamdani menonjol sebagai suara yang tegas. Ia memperjuangkan legislasi “Not On Our Dime”, yang melarang organisasi nirlaba mendanai permukiman ilegal Israel. Ini bukan hanya sikap moral, tapi bentuk konkrit dari tanggung jawab fiskal lokal terhadap kejahatan internasional.

Posisinya ini memicu perdebatan sengit, terutama di kalangan Yahudi liberal. Ia dikritik karena menolak mengecam slogan “Globalize the Intifada,” namun juga menegaskan penolakannya terhadap antisemitisme dan komitmennya dalam mencegah kejahatan kebencian.

Menggabungkan Isu Global dan Lokal

Keberhasilan Mamdani terletak pada kemampuannya menjembatani politik global seperti Gaza dengan realitas harian seperti harga sewa rumah dan akses transportasi. Ia memanfaatkan identitasnya sebagai Muslim Asia Selatan, dibesarkan dalam tradisi progresif, untuk menyuarakan keadilan secara holistik.

Beberapa strategi penting kampanyenya meliputi:

  • Legislasi Not On Our Dime: Menghubungkan pajak lokal dengan tanggung jawab internasional;

  • Program biaya hidup terjangkau: Termasuk 200.000 unit perumahan baru, layanan bus gratis, dan penitipan anak universal;

  • Pembangunan koalisi progresif multikultural: Melibatkan komunitas kulit hitam, Latin, Asia, dan Muslim dalam satu gerakan bersama;

  • Mobilisasi pemilih muda: Menjadikan Generasi Z sebagai tulang punggung kampanye, dengan kenaikan partisipasi hingga 40%.

Salah satu video viral kampanyenya menunjukkan para pemilih imigran dan berpenghasilan rendah yang dulunya memilih Trump, kini mendukung Mamdani karena komitmennya pada isu Gaza dan ekonomi rakyat.

Penutup: Masa Depan Partai Demokrat

Mamdani menawarkan platform politik yang jelas, konsisten, dan berani, tanpa kompromi terhadap nilai-nilai progresif. Ia membawa napas baru ke dalam Partai Demokrat, membuktikan bahwa keberanian bersikap dan program ekonomi yang konkret bisa membawa kemenangan.

Ia mungkin akan menghadapi perlawanan keras, tetapi narasi dan basis dukungannya sudah terbangun dengan kuat. Dalam dirinya, kita melihat awal dari politik generasi baru—yang tidak hanya bicara soal hari ini, tapi juga tentang keadilan global, hak asasi, dan masa depan bersama.


Hisham Jaafar adalah jurnalis dan peneliti asal Mesir, Ketua Dewan Pembina Yayasan Mada, serta Konsultan Senior di Pusat Regional untuk Mediasi dan Dialog. Tulisan ini diadaptasi dari versi aslinya di Aljazeera.net berjudul “Fauz ‘Zahrān Mamdānī’ Fī Niyū Yūrk wa Tadsyīn ‘Siyāsah Gazah’.”


Oleh: Hisham Jaafar